Pages

Anak Desa

Monday, March 30, 2015

Aku adalah seorang anak yang tumbuh dan di besarkan di sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Aku tinggal dengan orang tua dan kedua kakakku yang menyayangiku. Sebagai anak bungsu keluarga, aku dididik untuk tidak manja seperti anak bungsu pada umunya. Aku di bekali dengan pengetahuan agama dari kecil, sehingga ku tumbuh menjadi anak yang selalu taat beribadah dan terbiasa untuk hidup mandiri. Walaupun keadaan ekonomi kami terbilang tidak mampu, tapi kehidupan kami selalu di liputi rasa bahagia dan saling berbagi dalam suka maupun duka. Keluarga adalah segalanya bagiku.
Tapi, kehidupanku justru yang membuat teman-temanku tidak senang dan merasa terganggu dengan kehadiranku di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari. aku tidak mengerti dengan semua teman-temanku yang bersikap seperti itu kepadaku, aku tak mengerti apa kesalahanku sehingga mereka begitu membenciku dan selalu menghinaku. Aku sekarang sudah duduk di bangku kelas V SD di desa ku. Aku semakin tak mengerti dengan teman-temanku, bahkan sampai tahun ke-5 aku bersekolah mereka masih saja melakukan itu kepadaku.
Sebagai seorang anak perempuan, aku sangat tidak nyaman dengan perlakuan teman-teman kepadaku. Aku selalu di ganggu dan di permainkan oleh mereka setiap ada kesempatan. Mereka benar-benar tidak punya perasaan, teganya mereka melakukan itu kepadaku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan mereka dan semua orang di desaku. Aku semakin terasing. Aku memilih untuk mengungkapkan semua isi hatiku kepada ibundaku tercinta. Dan keluargaku pun mulai mengetahui apa yang ku alami sejak aku bersekolah karena aku sudah benar-benar tak tahan dengan perlakuan teman-teman sekolahku. Aku di perlakukan seperti itu, membuat hati Ibuku menjadi terenyuh mendengarnya. Ibuku hanya bisa menitikkan air mata mendengar itu semua, dan tanpa sepengetahuanku pun Ibu melaporkannya pada Guru-guru di sekolah dengan harapan tidak di perlakukan seperti itu lagi.
Ternyata usaha Ibuku itu pun malah memperburuk keadaan, teman-teman di sekolah pun makin menjadi-jadi membullyku. Mereka malah mengatakan bahwa aku anak tukang ngadu dan tak ingin melihat mukaku lagi di sekolah. Betapa sakitnya hatiku mendengar penghinaan mereka itu, dan hanya bisa menunduk menahan tangis karena tidak ada yang mengerti dan membelaku sama sekali. Semua teman-temanku menjauh dariku dan menganggapku tidak pernah ada di antara mereka. Aku benar-benar kesal dan berlari pergi karena mereka bergerombol mengejarku dan berusaha menyerangku. Tapi salah satu dari mereka malah melempar bambu yang ia genggam dan tepat mengenai kepala sebelah kiriku. Segera saja darah mengalir dari sudut kepalaku, dan mereka semua hanya lari melihatku meringis kesakitan menahan sakit dan bukannya menolongku. Di mana hati mereka, benar-benar tak berperikemanusiaan.
Selang beberapa menit kemudian, Guruku lewat dan melihatku berdarah. Segera dia memberi perban di kepalaku tapi masih tetap berdarah, lagi dan lagi. Lalu dia pun memutuskan untuk mengantarkan aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, betapa kagetnya kedua orang tua dan kakakku melihat keadaanku saat itu. mereka langsung membawaku ke rumah sakit.
Beberapa bulan di rumah sakit, aku telah di perbolehkan untuk pulang oleh Dokter dan biayanya telah lunas dari hasil pinjaman-pinjaman tetangga dan sanak saudaraku yang miris hatinya melihat keadaanku saat itu. aku benar-benar tak sanggup untuk mengingat masa-masa sulit itu, bahkan saat aku menuliskannya sekarang ini tapi aku ingin berbagi kepada semua orang agar semuanya tau bagaimana susahnya kehidupanku dulu.
Dan semuanya tak hanya sampai di situ, saat yang juga paling membuatku harus tertatih adalah ketika Guru di kelas ku bertanya pada semua murid termasuk aku cita-cita kita. Semua murid pun mulai menjawab dengan wajah berseri-seri cita-cita mereka. Dan tibalah saat aku yang mengutarakan cita-citaku, sedikit berdebar tapi aku tidak mau kalah dari teman yang lain. “aku ingin menjadi insyinyur pertanian” itulah sedikit ungkapan kecilku yang ku sampaikan dengan bangga. Namun, perkiraanku salah. Teman-temanku malah mengolok-ngolokku hingga waktu pulang tiba. Hatiku sakit mendengar olokan mereka yang sangat tidak berperasaan itu. aku pun pulang dengan wajah cemberut, melihat itu Ibuku pun mendekatiku dengan menebar senyum. “ada apa Nak?? Kenapa koq mukamu cemberut begitu?”. “di sekolah tadi teman-teman merendahkan aku lagi Bu, mereka mengolok-ngolokku karena cita-citaku yang ingin menjadi insinyur pertanian dan menganggap aku gila memiliki cita-cita itu”. “sudahlah Nak, kita memang miskin harta tapi kita tidak boleh miskin cita-cita”. Sambil memelukku,  Mama terus mengalirkan semangat itu. aku yang tengah di liputi kesedihan pun mulai menjernihkan pikiranku dalam dekapan hangat Ibuku. Ibuku benar, aku harus memiliki cita-cita setinggi langit agar aku bisa berusaha seperti apa yang aku pikirkan.
Siangnya, aku segera di ajak Ayahku untuk ke kebun jagung kami yang tak berada jauh dari rumah tempat kami tinggal. Dengan mengendarai sepeda ontel Ayah, aku yang di boncengnya pun telah tiba di kebun kami. Segera Ayah menanam biji-bijian untuk menjadi benih jagung, sambil tersenyum ramah kepadaku dia pun berkata dengan nada khasnya, “Nak, kamu harus seperti biji jagung ini”. dengan keheranan pun aku mulai berucap, “kenapa Yah? Koq aku harus seperti biji jagung ini? biji jagung ini kan tersembunyi di balik tanah?”. “kamu benar Nak, biji jagung memang tersembunyi di balik tanah. Tapi suatu saat nanti biji jagung itu akan menjadi sebuah tanaman jagung yang tinggi dan subur. Di balik itu semua, tentunya ada pupuk dan air untuk menyuburkannya. Anggaplah orang-orang yang selalu meremahkanmu itu adalah pupuk dan air yang akan menjadikanmu orang yang hebat suatu saat nanti”. Aku tercengang mendengar penuturan Ayahku, seolah terhipnotis dengan apa yang baru saja dia sampaikan kepadaku. Perbincangan kami siang itu pun berakhir dan kami segera pulang.
Beberapa tahun kemudian, aku masuk salah satu SMA favorit di kotaku. Aku sangat bersyukur telah mendapat beasiswa sehingga tidak terlalu memberatkan orang tuaku dengan biaya sekolahku. Hari-hari pun kulalui di sekolah ini. hari yang paling tidak pernah ku lupakan adalah ketika from night dulu. Pada malam itu, terdapat beberpa kategori yang di tampilkan. Sementara teman-teman yang lain mendapatkan kategori yang mereka inginkan,betapa pedih hatiku ketika aku dinobatkan sebagai siswa tergaring seangkatan. Mereka dengan tega melakukan itu kepadaku pada saat perpisahan kami seangkatan SMA. Aku pun di persilahkan untuk mengungkapkan semua isi hatiku telah mendapatkan gelar itu. aku pun naik ke atas panggung dan mengungkapkan apa yang aku bisa. “terimakasih untuk kategori yang telah kalian pilihkan untukku. Aku sangat berterimakasih kepada teman-teman sekalian dan tidak akan pernah melupakan ini seumur hidupku.” Sambil menitikkan air mata, kata-kata itu pun mengalir begitu saja seiring hembusan napas kecewa yang mengiringi langkahku. Setelah kejadian itu, aku merasa benar-benar terluka. Bagaimana mungkin mereka mempermalukanku di saat seperti itu. hatiku benar-benar pedih di saat aku kembali membayangkan saat-saat itu. kembali pikiranku menerawang jauh ke angkasa, sembari mengingat kejadian yang membuatku terjatuh dalam keputusasaan yang benar-benar nyata. Setelah kejadian menyedihkan dalam hidupku itu, aku merasa bahwa aku hanyalah seorang anak miskin yang tak pernah diinginkan oleh teman-temanku.
Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mendaftar di salah satu PTN unggulan di kotaku. Aku kembali di cemooh oleh tetangga-tetanggaku, “dasar anak tidak tau diri kamu Kugy, udah tau miskin masih aja pengen kuliah di universitas itu lagi. Biayanya kan mahal, dapat duit dari mana coba……………”. Begitulah anggapan semua orang di desaku setelah mendengar rencanaku itu. tapi, Ayah dan Ibuku selalu mendukungku dan menenangkan aku saat aku benar-benar merasa terpuruk. Aku bahagia, walaupun aku hanya seorang gadis miskin yang tak punya materi yang layak seperti kebanyakan teman-temanku dengan sejuta impian yang masih tergambar. Aku terus membantu kedua orang tuaku bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliahku.
Hingga pada waktunya tiba, aku dipanggil kepala sekolah ke ruangannya. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku untuk menemuinya dengan perasaan berdebar. Tok tok tok….. “ masuk”. “assalamualaikum Pak. Katanya Bapak mencari saya, ada apa yeah Pak??”. “ begini Nak, kamu satu-satunya siswa kita yang diterima ke universitas itu. tapi, kamu harus membayar Rp.250.000,00 untuk biaya masuknya”. Betapa senang hatiku mendengar penuturan Bapak kepala Sekolah yang sangat ku hormati itu. segera ku meninggalkan ruangannya dengan beribu terimakasih yang tak  terbendung.

Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahwa inilah awal perjuanganku untuk meraih kesuksesan yang telah lama aku impikan.  Aku benar-benar bahagia hingga sulit untuk mengungkapkan rasa itu. sampai di rumah, segera ku menghampiri Ibuku yang tengah duduk di serambi rumah kami. “Ibu, aku di terima di PTN itu. aku satu-satunya siswa di sekolah yang diterima melanjutkan pendidikanku di PTN itu”. mendengar penuturanku itu, Ibuku dengan reflex segera memelukku yang berlumur keringat. Di balik itu semua, aku kembali teringat kata-kata Bapak kepsek tadi bahwa aku harus membayar uang muka sebesar Rp.250.000,00. Kembali ku merenung memikirkannya. “loh, kok kamu jadi melamun toh Nak? Harusnya kamu senang dan bahagia dengan semua ini”. “ia Bu, tapi ada satu hal lagi yang masih mengganjal di hatiku”. Ibuku yang sedari tadi berdiri pun menuntunku untuk duduk sambil berbincang. Dengan wajah penasarannya Ibuku kembali berkata, “ apakah yang menjadi kekalutan hatimu Nak??”. “ begini Bu, Pak kepala sekolah juga mengatakan bahwa aku harus membayar uang muka sebesar Rp.250.000,00”. “kalau begitu, jangan buang-buang waktu lagi Nak, ayo berangkat ke administrasinya”. “ maafkan aku Bu, tapi uangnya sudah digunakan untuk biaya berobat kakak kemarin”. Ibuku kembali berpikir, “ ya sudah, kita ke tempat Pak RT untuk meminjamkan kamu uang saja yah Nak. Kami pun segera bergegas untuk ke rumah pak RT di desa kami dengan perasaan.

No comments:

Post a Comment

 

Most Reading

Tags

Sidebar One