Aku adalah seorang anak yang tumbuh
dan di besarkan di sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Aku tinggal dengan
orang tua dan kedua kakakku yang menyayangiku. Sebagai anak bungsu keluarga,
aku dididik untuk tidak manja seperti anak bungsu pada umunya. Aku di bekali
dengan pengetahuan agama dari kecil, sehingga ku tumbuh menjadi anak yang
selalu taat beribadah dan terbiasa untuk hidup mandiri. Walaupun keadaan
ekonomi kami terbilang tidak mampu, tapi kehidupan kami selalu di liputi rasa
bahagia dan saling berbagi dalam suka maupun duka. Keluarga adalah segalanya
bagiku.
Tapi, kehidupanku justru yang membuat
teman-temanku tidak senang dan merasa terganggu dengan kehadiranku di sekolah
maupun dalam pergaulan sehari-hari. aku tidak mengerti dengan semua
teman-temanku yang bersikap seperti itu kepadaku, aku tak mengerti apa
kesalahanku sehingga mereka begitu membenciku dan selalu menghinaku. Aku
sekarang sudah duduk di bangku kelas V SD di desa ku. Aku semakin tak mengerti
dengan teman-temanku, bahkan sampai tahun ke-5 aku bersekolah mereka masih saja
melakukan itu kepadaku.
Sebagai seorang anak perempuan, aku
sangat tidak nyaman dengan perlakuan teman-teman kepadaku. Aku selalu di ganggu
dan di permainkan oleh mereka setiap ada kesempatan. Mereka benar-benar tidak
punya perasaan, teganya mereka melakukan itu kepadaku. Aku benar-benar tidak
habis pikir dengan mereka dan semua orang di desaku. Aku semakin terasing. Aku
memilih untuk mengungkapkan semua isi hatiku kepada ibundaku tercinta. Dan keluargaku
pun mulai mengetahui apa yang ku alami sejak aku bersekolah karena aku sudah
benar-benar tak tahan dengan perlakuan teman-teman sekolahku. Aku di perlakukan
seperti itu, membuat hati Ibuku menjadi terenyuh mendengarnya. Ibuku hanya bisa
menitikkan air mata mendengar itu semua, dan tanpa sepengetahuanku pun Ibu
melaporkannya pada Guru-guru di sekolah dengan harapan tidak di perlakukan
seperti itu lagi.
Ternyata usaha Ibuku itu pun malah
memperburuk keadaan, teman-teman di sekolah pun makin menjadi-jadi membullyku.
Mereka malah mengatakan bahwa aku anak tukang ngadu dan tak ingin melihat
mukaku lagi di sekolah. Betapa sakitnya hatiku mendengar penghinaan mereka itu,
dan hanya bisa menunduk menahan tangis karena tidak ada yang mengerti dan
membelaku sama sekali. Semua teman-temanku menjauh dariku dan menganggapku
tidak pernah ada di antara mereka. Aku benar-benar kesal dan berlari pergi
karena mereka bergerombol mengejarku dan berusaha menyerangku. Tapi salah satu
dari mereka malah melempar bambu yang ia genggam dan tepat mengenai kepala
sebelah kiriku. Segera saja darah mengalir dari sudut kepalaku, dan mereka
semua hanya lari melihatku meringis kesakitan menahan sakit dan bukannya
menolongku. Di mana hati mereka, benar-benar tak berperikemanusiaan.
Selang beberapa menit kemudian,
Guruku lewat dan melihatku berdarah. Segera dia memberi perban di kepalaku tapi
masih tetap berdarah, lagi dan lagi. Lalu dia pun memutuskan untuk mengantarkan
aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, betapa kagetnya kedua orang tua dan
kakakku melihat keadaanku saat itu. mereka langsung membawaku ke rumah sakit.
Beberapa bulan di rumah sakit, aku
telah di perbolehkan untuk pulang oleh Dokter dan biayanya telah lunas dari
hasil pinjaman-pinjaman tetangga dan sanak saudaraku yang miris hatinya melihat
keadaanku saat itu. aku benar-benar tak sanggup untuk mengingat masa-masa sulit
itu, bahkan saat aku menuliskannya sekarang ini tapi aku ingin berbagi kepada
semua orang agar semuanya tau bagaimana susahnya kehidupanku dulu.
Dan semuanya tak hanya sampai di
situ, saat yang juga paling membuatku harus tertatih adalah ketika Guru di
kelas ku bertanya pada semua murid termasuk aku cita-cita kita. Semua murid pun
mulai menjawab dengan wajah berseri-seri cita-cita mereka. Dan tibalah saat aku
yang mengutarakan cita-citaku, sedikit berdebar tapi aku tidak mau kalah dari
teman yang lain. “aku ingin menjadi insyinyur pertanian” itulah sedikit
ungkapan kecilku yang ku sampaikan dengan bangga. Namun, perkiraanku salah.
Teman-temanku malah mengolok-ngolokku hingga waktu pulang tiba. Hatiku sakit
mendengar olokan mereka yang sangat tidak berperasaan itu. aku pun pulang
dengan wajah cemberut, melihat itu Ibuku pun mendekatiku dengan menebar senyum.
“ada apa Nak?? Kenapa koq mukamu cemberut begitu?”. “di sekolah tadi
teman-teman merendahkan aku lagi Bu, mereka mengolok-ngolokku karena
cita-citaku yang ingin menjadi insinyur pertanian dan menganggap aku gila
memiliki cita-cita itu”. “sudahlah Nak, kita memang miskin harta tapi kita
tidak boleh miskin cita-cita”. Sambil memelukku, Mama terus mengalirkan semangat itu. aku yang
tengah di liputi kesedihan pun mulai menjernihkan pikiranku dalam dekapan
hangat Ibuku. Ibuku benar, aku harus memiliki cita-cita setinggi langit agar
aku bisa berusaha seperti apa yang aku pikirkan.
Siangnya, aku segera di ajak Ayahku
untuk ke kebun jagung kami yang tak berada jauh dari rumah tempat kami tinggal.
Dengan mengendarai sepeda ontel Ayah, aku yang di boncengnya pun telah tiba di
kebun kami. Segera Ayah menanam biji-bijian untuk menjadi benih jagung, sambil
tersenyum ramah kepadaku dia pun berkata dengan nada khasnya, “Nak, kamu harus
seperti biji jagung ini”. dengan keheranan pun aku mulai berucap, “kenapa Yah?
Koq aku harus seperti biji jagung ini? biji jagung ini kan tersembunyi di balik
tanah?”. “kamu benar Nak, biji jagung memang tersembunyi di balik tanah. Tapi
suatu saat nanti biji jagung itu akan menjadi sebuah tanaman jagung yang tinggi
dan subur. Di balik itu semua, tentunya ada pupuk dan air untuk menyuburkannya.
Anggaplah orang-orang yang selalu meremahkanmu itu adalah pupuk dan air yang
akan menjadikanmu orang yang hebat suatu saat nanti”. Aku tercengang mendengar
penuturan Ayahku, seolah terhipnotis dengan apa yang baru saja dia sampaikan
kepadaku. Perbincangan kami siang itu pun berakhir dan kami segera pulang.
Beberapa tahun kemudian, aku masuk
salah satu SMA favorit di kotaku. Aku sangat bersyukur telah mendapat beasiswa
sehingga tidak terlalu memberatkan orang tuaku dengan biaya sekolahku.
Hari-hari pun kulalui di sekolah ini. hari yang paling tidak pernah ku lupakan
adalah ketika from night dulu. Pada malam itu, terdapat beberpa kategori yang
di tampilkan. Sementara teman-teman yang lain mendapatkan kategori yang mereka
inginkan,betapa pedih hatiku ketika aku dinobatkan sebagai siswa tergaring
seangkatan. Mereka dengan tega melakukan itu kepadaku pada saat perpisahan kami
seangkatan SMA. Aku pun di persilahkan untuk mengungkapkan semua isi hatiku
telah mendapatkan gelar itu. aku pun naik ke atas panggung dan mengungkapkan
apa yang aku bisa. “terimakasih untuk kategori yang telah kalian pilihkan
untukku. Aku sangat berterimakasih kepada teman-teman sekalian dan tidak akan
pernah melupakan ini seumur hidupku.” Sambil menitikkan air mata, kata-kata itu
pun mengalir begitu saja seiring hembusan napas kecewa yang mengiringi
langkahku. Setelah kejadian itu, aku merasa benar-benar terluka. Bagaimana
mungkin mereka mempermalukanku di saat seperti itu. hatiku benar-benar pedih di
saat aku kembali membayangkan saat-saat itu. kembali pikiranku menerawang jauh
ke angkasa, sembari mengingat kejadian yang membuatku terjatuh dalam
keputusasaan yang benar-benar nyata. Setelah kejadian menyedihkan dalam hidupku
itu, aku merasa bahwa aku hanyalah seorang anak miskin yang tak pernah
diinginkan oleh teman-temanku.
Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk
mendaftar di salah satu PTN unggulan di kotaku. Aku kembali di cemooh oleh
tetangga-tetanggaku, “dasar anak tidak tau diri kamu Kugy, udah tau miskin
masih aja pengen kuliah di universitas itu lagi. Biayanya kan mahal, dapat duit
dari mana coba……………”. Begitulah anggapan semua orang di desaku setelah
mendengar rencanaku itu. tapi, Ayah dan Ibuku selalu mendukungku dan
menenangkan aku saat aku benar-benar merasa terpuruk. Aku bahagia, walaupun aku
hanya seorang gadis miskin yang tak punya materi yang layak seperti kebanyakan
teman-temanku dengan sejuta impian yang masih tergambar. Aku terus membantu
kedua orang tuaku bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliahku.
Hingga pada waktunya tiba, aku
dipanggil kepala sekolah ke ruangannya. Aku pun segera beranjak dari tempat
dudukku untuk menemuinya dengan perasaan berdebar. Tok tok tok….. “ masuk”.
“assalamualaikum Pak. Katanya Bapak mencari saya, ada apa yeah Pak??”. “ begini
Nak, kamu satu-satunya siswa kita yang diterima ke universitas itu. tapi, kamu
harus membayar Rp.250.000,00 untuk biaya masuknya”. Betapa senang hatiku
mendengar penuturan Bapak kepala Sekolah yang sangat ku hormati itu. segera ku
meninggalkan ruangannya dengan beribu terimakasih yang tak terbendung.
Sepanjang perjalanan pulang, aku
merasa bahwa inilah awal perjuanganku untuk meraih kesuksesan yang telah lama
aku impikan. Aku benar-benar bahagia
hingga sulit untuk mengungkapkan rasa itu. sampai di rumah, segera ku menghampiri
Ibuku yang tengah duduk di serambi rumah kami. “Ibu, aku di terima di PTN itu.
aku satu-satunya siswa di sekolah yang diterima melanjutkan pendidikanku di PTN
itu”. mendengar penuturanku itu, Ibuku dengan reflex segera memelukku yang
berlumur keringat. Di balik itu semua, aku kembali teringat kata-kata Bapak
kepsek tadi bahwa aku harus membayar uang muka sebesar Rp.250.000,00. Kembali
ku merenung memikirkannya. “loh, kok kamu jadi melamun toh Nak? Harusnya kamu
senang dan bahagia dengan semua ini”. “ia Bu, tapi ada satu hal lagi yang masih
mengganjal di hatiku”. Ibuku yang sedari tadi berdiri pun menuntunku untuk
duduk sambil berbincang. Dengan wajah penasarannya Ibuku kembali berkata, “ apakah
yang menjadi kekalutan hatimu Nak??”. “ begini Bu, Pak kepala sekolah juga
mengatakan bahwa aku harus membayar uang muka sebesar Rp.250.000,00”. “kalau
begitu, jangan buang-buang waktu lagi Nak, ayo berangkat ke administrasinya”. “
maafkan aku Bu, tapi uangnya sudah digunakan untuk biaya berobat kakak kemarin”.
Ibuku kembali berpikir, “ ya sudah, kita ke tempat Pak RT untuk meminjamkan
kamu uang saja yah Nak. Kami pun segera bergegas untuk ke rumah pak RT di desa
kami dengan perasaan.
No comments:
Post a Comment